google translate :

Selasa, 17 Januari 2012

Teladan Para Imam Mazhab Dalam Menghadapi Perbedaan Pendapat



Teladan Para Imam Mazhab Dalam Menghadapi Perbedaan Pendapat

Perbedaan pendapat di kalangan para imam mazhab tidak pernah melebihi dari apa yang sepatutnya. Perbedaan itu tidak bersangkutan dengan sifat ta'ashshub, sombong diri, hasud dan setiap penyakit hati. Para imam mazhab tidak pernah mempunyai tujuan yang lain dalam usaha mereka kecuali mengajar serta menegakkan agama Islam kepada umat.

Perbedaan pendapat antara mazhab juga tidak menjadi faktor penghalang untuk shalat bersama-sama. Apabila tiba musim Haji, semua umat Islam tidak mungkin sama, ada para imam mazhab atau murid mereka atau pengikut me-reka akan turun ke Mekah dan Madinah untuk menunaikan amalan haji.
Justru jika kita kaji sejarah dan riwayat hidup mereka, kita akan dapati sifat terbuka yang amat tinggi di antara mereka. Mereka menerima teguran dengan hati yang terbuka, membetulkan ajaran yang tersilap, menghormati antara satu sama lain dan saling membandingkan ajaran sesama mereka. Kenapa tidak, bukankah para imam mazhab itu pada mulanya duduk berguru bersama, mengasaskan ajaran dari sumber yang sama dan mempunyai tujuan yang sama?

Pernah sekali Malik bin Anas ditanya adakah perlu membasuh jari-jari kaki saat berwudhu’. Beliau menjawab “Itu tidak perlu”. Setelah berakhirnya majlis kuliah tersebut, seorang anak didik Malik, bernama Ibn Wahhab berkata “Aku mengetahui akan suatu hadits tentang soalan tadi.”
Bertanya Malik: “Hadits apakah itu ?”
Ibn Wahhab berkata: “Laits ibn Sa‘ad, Ibn Luhai‘ah dan ‘Amr bin al-Harits meriwayatkan dari Yazid bin ‘Amr, dari Mustawrid bin Shaddad; dimana mereka telah berkata: ‘Kami melihat Rasulullah menggosok antara jari-jari kakinya saat berwudhu dengan anak jarinya’.”
Berkata Malik: “Riwayat itu adalah sahih. Aku tidak pernah mendengarnya hingga sesaat tadi.”
Ibn Wahhab seterusnya menerangkan bahwa Malik kemudian mengajar banyak orang untuk menggosok jari-jari kaki mereka apabila berwudhu’. Demikian satu contoh dari Malik, apabila dia mendengar suatu hadits dan dikenali sanadnya berdarajat sahih, dia terus membetulkan ajarannya.

Ahmad bin Hanbal pada awalnya berpendapat bahwa perkataan quru’ dalam ayat:
Dan isteri-isteri yang diceraikan itu hendaklah menunggu dengan menahan diri mereka (dari berkahwin) selama tiga kali suci (quru’). [Maksud surah al-Baqarah 2:228] bermaksud bersih dari haid. Kemudian apabila dia menemui sebuah hadits di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam diriwayatkan telah berkata kepada Fatimah binti Hubaisy radhiallahu ‘anha: Tinggalkanlah shalat pada masa quru’-mu, Ahmad telah membetulkan pendapatnya yang awal dengan berkata:
Aku pada mulanya mengatakan bahwa quru’ itu ialah suci (dari haid), sekarang aku berpendapat bahwa quru’ itu ialah haid dan bukan suci (dari haid).

Dalam kesungguhan mencari hadits pada zaman mereka, para imam mazhab saling bertanya dan bertukar sesama mereka. Contoh paling baik ialah pesan al-Syafi‘i kepada Ahmad bin Hanbal:
Engkau lebih mengetahui akan hadits-hadits dari aku. Oleh karena itu jika ada hadits yang sahih, beritahulah aku, sama ada hadits itu dari Kufah, Basrah atau Syria. Beritahulah aku supaya aku dapat berpegang kepadanya asalkan ia adalah sahih.

Teladan lain yang tidak boleh kita lupakan ialah kisah al-Syafi‘i yang mengimami shalat subuh di masjid yang bersebelahan dengan kubur Abu Hanifah. Beliau shalat tanpa membaca doa qunut dan apabila ditanya seseorang sehabis shalat al-Syafi‘i menjawab:
Masak aku hendak melakukan sesuatu yang berlainan dari apa yang diajarkan olehnya (Abu Hanifah) padahal aku berada disebelahnya.
Walaupun pada asalnya al-Syafi‘i berpendapat bahwa doa qunut itu sunat dibaca dalam shalat subuh tetapi pendapatnya itu dikebelakangkan sebagai menghormati Abu Hanifah yang berpendapat doa qunut itu tidak sunat dibaca. Disamping itu al-Syafi‘i juga tidak berqunut pada pagi itu untuk memudahkan jamaahnya yang mayoritas pada saat itu adalah pengikut Abu Hanifah.

Ahmad bin Hanbal berpendapat bahwa pendarahan hidung membatalkan wudhu’ dan dengan itu ia membatalkan shalat manakala Malik bin Anas pula berpendapat tidak membatalkan. Akan tetapi apabila Ahmad ditanya tentang apakah hukumnya seseorang yang bershalat di belakang imam yang tidak memperbaharui wudhu’nya saat mengalami pendarahan hidung, Ahmad berkata:
Apakah patut aku enggan bershalat di belakang Malik dan Sa‘id ibn al-Musayyib ?
Jawaban Ahmad itu menunjukkan sifat keterbukaannya yang tidak membataskan seseorang itu untuk mengikut pendapatnya saja. Yang bertanya itu boleh shalat di belakang mana-mana imam meskipun pendapat sesama mereka tentang perkara yang membatalkan wudhu’ dan shalat adalah tidak sama.
Para imam mazhab sendiri ada kalanya mengubah pendapat dan amalan mereka kepada pendapat imam yang lain. Tidak timbul konsep “Itu mazhab dia , itu mazhab aku!”

Perbedaan pendapat antara mazhab juga tidak menjadi faktor penghalang untuk shalat bersama-sama. Apabila tiba saja musim Haji, semua umat Islam tidak kira sama ada para imam mazhab atau murid mereka atau pengikut mereka akan turun ke Mekah dan Madinah untuk menunaikan amalan haji. Abu Hanifah dan muridnya dari Kufah, al-Syafi‘i dan muridnya dari Mesir serta Yaman, Ahmad dan muridnya dari Baghdad, dan dari semua pelosok dunia Islam datang ke Mekah dan Madinah dan shalat berjamaah di belakang
Malik berpendapat bacaan Basmalah tidak dibaca secara kuat di dalam shalat saat membaca al-Fatihah manakala Abu Hanifah dan al-Syafi‘i berpendapat dia dibaca secara kuat. Namun hal itu tidak menghalang mereka shalat bersama-sama.

Selain itu pemerintah Islam saat itu, Khalifah Abu Ja’far al-Mansur pernah membuat keputusan untuk menjadikan kitab hadits Malik bin Anas, al-Muwattha’, sebagai kitab yang rasmi untuk seluruh wilayah Islam Dinasti Abbasiah. Akan tetapi Malik menolak keputusan itu dengan berkata:
Sesungguhnya umat Islam rata-rata berpegang dan berpengetahuan dengan hadits dan riwayat yang mungkin kami (Malik) sendiri tidak mengetahuinya.
Jawaban Malik membuktikan bahwa dia tahu ada banyak lagi hadits-hadits yang tidak sempat diriwayatkannya dan lebih utama lagi, dia tidak mau memaksa banyak orang menerima ‘mazhab’nya tanpa pilihan lain.
Riwayat hidup al-Syafi‘i juga terkenal dengan apa yang diistilahkan sebagai qaul qadim dan qaul jadid. Qaul qadim merupakan pendapat al-Syafi‘i yang awal saat berada di Semenanjung Arab. Akan tetapi setelah dia berhijrah ke Iraq dan Mesir, dia telah sukses menemui sejumlah hadits-hadits yang lain yang membuat dia membetulkan dan menyelaraskan ajarannya yang terdahulu. Pembetulannya itu beliau lakukan tanpa malu-malu, hingga terkenal dalam sejarah sebagai Qaul jadid.


Demikianlah beberapa contoh yang sempat dikemukakan untuk dijadikan teladan untuk kita bermazhab. Dari contoh-contoh di atas, boleh kita simpulkan:

• Para imam mazhab membetulkan ajaran mereka serta-merta apabila terbukti salah tanpa setiap sikap ragu-ragu atau keberatan.
• Para imam mazhab saling hormat menghormati antara satu sama lain. Mereka menghormati ketinggian ilmu serta pendapat di kalangan mereka.
• Para imam mazhab sendiri ada kalanya mengubah pendapat dan amalan mereka kepada pendapat imam yang lain. Tidak timbul konsep “Itu mazhab dia , itu mazhab aku!”
• Para imam mazhab tidak memaksa umat Islam untuk mentaati ajaran mereka, malah mereka sendiri yang menyerukakan agar umat Islam memilih dan mengambil apa yang terbaik.
• Para imam mazhab tidak pernah memaksa umat Islam untuk bermazhab ataupun mengikuti mana-mana mazhab. Setiap individu bebas beramal dengan ilmu yang diterima masing-masing.
• Para imam mazhab tidak pernah berhenti dari mencari dan mengkaji ilmu. Usaha mereka diteruskan sehingga ke akhir hayat, membetulkan mana yang salah dan mengajar apa yang baru. Itu dilakukan secara terbuka tanpa bersembunyi atau berdia m diri.
• Para imam mazhab tidak mementingkan reputasi dan kepentingan diri. Untuk mereka apa yang benar, itulah yang diperjuangkan.

Teladan-teladan yang ditunjukkan oleh para imam mazhab di atas dapat dijadikan pegangan dan i'tibar oleh kita. Untuk mereka apa yang benar ialah ajaran al-Qur’an dan al-Sunnah. Dari dua sumber itulah mereka mengupas segala hukum dan ajaran untuk kebaikan umat Islam sendiri. Adakalanya mereka luput atau kurang tepat tetapi mereka menerima hakikat tersebut dengan sering berunding dan bertukar pendapat sesama mereka.
Sikap yang demikian perlu kita teladani dan praktikkan. Bukan membeda-bedakan antar mazhab, membenarkan yang satu dan menyalahkan yang lain.





sumber : http://www.facebook.com/photo.php?fbid=264826330250865&set=a.227788947287937.57772.142545949145571&type=1&permPage=1

Tidak ada komentar: