Tampilkan postingan dengan label ahlak rasullah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ahlak rasullah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 15 Februari 2011

Uwais Al-Qorniy


(Pelajaran Buat Kita yang Terjebak dengan Atribut Kehidupan)

Dari Abu Hurairah ra.. : Telah bersabda Rasulullah saw :
“ Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla mencintai makhluk-Nya yang bersifat : 
(i) al-asfiyaa` (yaitu orang-orang yang mempunyai hati dan ruhani yang bersih, suci, jernih dan tulus dan benar-benar dekat dengan Allah swt 
(ii) al-akhfiyaa`(yaitu orang-orang yang mengasingkan diri dari orang ramai, yang diam-diam, yang sembunyi-sembunyi, karena Allah swt)
(iii) al-abriyaa` (yaitu berdebu/kumuh, maksudnya orang-orang yang kehidupannya sangat miskin, penuh pengorbanan dan kesabaran di atas kesusahan dan keperihan hidup yang mereka lalui karena Allah swt) 
(iv) asy-sya'ithah ruusuhum (yaitu orang-orang yang rambut mereka kusut, tidak teratur, mungkin karena sibuk dengan urusan-urusan ukhrowi dan juga menghadapi liku-liku kemiskinan hidup dan juga pengorbanan atas agama Allah swt)
 (v) al-mughobbaroh wujuuhuhum (yaitu orang-orang yang wajah mereka penuh berlumuran debu, lantaran liku-liku kesusahan yang dihadapi dalam hidup mereka yang serba sederhana dan kekurangan karena Allah swt)
(vi) al-khomsoh butuunuhum (yaitu orang-orang yang sangat kempis perut-perut mereka karena kelaparan dan kurang makan
(vii) Orang-orang yang bila mengajukan usul kepada pemimpin- pemimpin mereka tidak diperkenankan
(viii) Jika mereka meminang wanita-wanita yang berharta atau berkedudukan, maka pinangan mereka ditolak.
(ix) Jika mereka pergi dari suatu majlis atau tempat, maka mereka tidak akan dicari oleh orang lain (yaitu orang ramai tidak peduli dengan keperrgian mereka)
(x) Jika mereka hadir dalam suatu majlis, maka orang ramai tidak gembira atas kemunculannya
(xi) Jika mereka jatuh sakit, mereka tidak dijenguk
(xii) Jika mereka meninggal, mereka tidak dilayat Setelah mendengar sabda Rasulullah saw, maka para sahabat bertanya : Wahai Rasulullah, bagaimanakah kami bisa menemui orang-orang yang dicintai Allah swt yang mempunyai sifat-sifat tersebut di atas ?

Rasul saw bersabda : Itulah Uwais Al-Qorniy. 
Para sahabat bertanya lagi : Bagaimanakah ciri-cirinya ?
Sabda Nabi saw : Dia mempunyai mata yang agak kebiru-biruan dan juga rabut berwarna kemerah-merahan/pirang, bidang dadanya, badannya lurus tegak seimbang bila berdiri, mempunyai warna kulit sawo matang, senantiasa dagunya menempel ke dadanya (menundukkan kepalanya karena tawadhu' dan banyak berzikir), pandangan matanya selalu terarah pada tempat sujudnya, selalu meletakkan tangan kanannya di atas yang tangan kirinya, selalu tilawah Al-Quran, selalu menangisi dirinya, mempunyai dua helai kain usang/lusuh, tidak diperhatikan dan dipedulikan orang ramai, selalu memakai kain yang dibuat dari suuf (bulu) dan selalu memakai selendang yang juga dibuat dari suuf (bulu), tidak dikenal (majhuul) oleh penduduk bumi, sangat dikenal (ma'ruuf) oleh ahli langit, seandainya dia bersungguh-sungguh memohon kepada Allah swt pastilah Allah swt akan memperkenankannya, ketahuilah bahwa sesungguhnya di bawah bahunya yang kiri terdapat bintik putih, ketahuilah bahwa bila datang hari kiamat nanti dikatakan kepada hamba-hamba: Masuklah kalian ke dalam syurga!, dan dikatakan kepada Uwais : Berhenti, dan mintalah syafaa'at ! Maka Allah 'Azza wa Jalla pun menerima syafaa'atnya seperti Robii'ah dan Mudhor. Wahai 'Umar! Wahai 'Ali, apabila kalian berdua berjumpa dengannya maka mohonlah kalian berdua kepadanya supaya dia memohon istighfar kepada Allah swt untuk kalian berdua, niscaya Allah akan mengampuni kalian berdua.
Perawi melanjutkan : Maka mereka berdua(yaitu 'Umar dan 'Ali r.huma) terus menanti dan mencari Uwais rah.a. selama sepuluh tahun, tetapi mereka berdua tidak mampu untuk bertemu dengannya. 
Tetapi pada akhir tahun kewafatan 'Umar r.a,. 'Umar .r.a. terus naik ke Bukit Abu Qubais yang berdekatan dengan Masjidil Haram, lalu Beliau menyeru dengan suara yang kuat: 
Wahai jama`ah haji dari Yaman ! Adakah Uwais di kalangan kalian ?
 Lalu berdirilah seorang tua yang berjanggut panjang dan menjawab: Sesungguhnya kami tidak tahu siapa itu Uwais. Akan tetapi, saya ada seorang anak dari saudara saya yang dipanggil Uwais, namanya tidak dikenal orang, lagi pula dia sangat miskin, dia mengembala unta kami, dan pada pandangan kami dia adalah orang yang tidak dipandang orang. 

Dari penjelasan itu, 'Umar r.a. masih belum jelas, seolah beliau tidak menduga. Kemudian
'Umar r.a. pun bertanya lagi: Anak saudara kamu itu, adakah dia berada di Haram saat ini ?
Jawab orang tua yang berjanggut panjang itu : ya, ada
Tanya 'Umar lagi: Di manakah ia bisa saya temui ?
Jawab orang tua itu: dia akan memperlihatkan dirinya pada tuan di 'Arafah.

Perawi melanjutkan ceritanya lagi: Maka 'Umar dan 'Ali r.huma pun dengan segera menuju ke 'Arafah, maka disana mereka berdua mendapati seorang yang sedang berdiri solat, ke arah sebatang tiang, dan ada unta di sekelilingnya yang sedang merumput.
Maka mereka berdua r.a. pun menambat kedua ekor himar mereka kemudian mendekati lelaki itu sambil mengucapkan :
Assalaamu'alaikum wa rahmatullaah!
Uwais rah.a. memendekkan shalatnya kemudian menjawab : Assalaamu'alaikumaa warohmatullaah!
Mereka berdua r.a. bertanya: siapa Anda?
Jawab Uwais rah.a.: Saya adalah seorang pengembala unta dan juga seorang pelayan?
Mereka berdua r.huma membalas: kami tidak bertanya tentang pekerjaan Anda. Siapa nama Anda ?
Jawab Uwais rah.a: 'Abdullah (hamba Allah).
Balas mereka berdua r.huma. lagi: Sesungguhnya kami sudah mengetahui bahwa semua ahli langit dan ahli bumi adalah 'Abiidullah. 
Siapakah nama Anda yang telah diberi oleh ibu Anda ?
Jawab Uwais rah.a: Oh tuan berdua ini ! Sebenarnya apakah yang tuan berdua kehendaki dari saya ?
Jawab mereka berdua: Telah menjelaskan kepada kami Nabi Muhammmad saw akan sifat-sifat Uwais Al-Qorniy, maka sesungguhnya kami telah kenal akan kemerah-merahan dan kebiru-biruan (matanya), dan baginda saw telah mengkhabarkan kepada kami bahwa di bawah bahunya yang kiri ada bintik putih maka terangkanlah kepada kami berdua, apa sekiranya tanda-tanda itu ada pada Anda ?
Maka Uwais rah.a. pun menunjukkan tanda di bawah bahunya, maka memang benar terdapat bintik yang disebut, kemudian mereka berdua r.huma saling berebut-rebut untuk mengecup keningnya.
Keduanya berkata: Kami naik saksi bahwa saudaralah Uwais Al- Qorniy. Maka beristighfarlah, mohonlah ampunan kepada Allah untuk kami berdua, semoga Allah swt memberikan maghfiroh untuk Anda !
Jawab Uwais rah.a.: Tidak aku khususkan dengan istighfarku itu hanya untuk diriku sendiri, akan tetapi saya hanya merangkum semua mu`minin dan mu`minat, muslimin dan muslimat, di daratan dan di lautan. Oh tuan berdua bagaimana sampai Allah swt menyingkapkan keadaan saya kepada tuan berdua, dan Allah swt telah memperkenalkan urusan saya kepada tuan berdua ! Maka sebenarnya siapakah
tuan berdua ini ?
Lalu 'Ali r.a. menjawab: Ini adalah 'Umar, Amiirul Mu`miniin, dan saya 'Ali bin Abi Tholib.
(Setelah mendengar penerangan 'Ali r.a.) maka berdirilah Uwais rah.a. sambil berkata:
Assalaamu'alaika Yaa Amiirol Mu`miniin, Warohmatullaahi Wa Barokaatuh! Dan tuan, Ya 'Ali bin Abi Tholib, semoga Allah membalas tuan berdua (karena berkhidmat) kepada ummat ini dengan penuh kebaikan!
Lalu membalaslah mereka berdua r.huma: Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
Maka berkatalah 'Umar r.a. kepada Uwais rah.a.: saya akan beri nafkah Anda dan sedikit pakaian untuk dipakai dan juga tempat. 
Kemudian Uwais rah.a. membalas: Waktu yang telah ditentukan diantara saya dan tuan, saya mungkin tidak akan melihat atau bertemu tuan lagi selepas hari ini, maka beritahu saya apa yang saya harus perbuat dengan nafkah itu dan dengan kain pakaian itu?
Bukankah tuan melihat bahwa saya masih sedang memakai kain sarung dan juga kain selendang ini?
Tuan juga melihat sarung dan selendang ini tidak robek? 
Juga saya masih pakai sandal ? Apa yang saya pakai semua masih layak untuk dipakai?
Saya telah mengambil empat dirham sebagai upah penggembalaan, maka bilakah tuan melihat saya makan dengan uang itu)? 
Wahai Amirul Mu`miniin, sesungguhnya di hadapan saya dan di hadapan tuan ada suatu rintangan yang tersangat sulit untuk diatasi, di mana seorang pun tidak akan dapat melepaskan diri dari rintangan sulit itu kecuali seorang yang sangat kurus kering badannya lagi ringan bebannya (ya'nii sedikit sekali hartanya / miskin), maka ringanlah, semoga Allaah swt merahmati tuan!
Tatkala telah mendengar 'Umar r.a. akan nasihat Uwais rah.a. itu maka terdiamlah ia dan tidak bergerak sedikitpun,
kemudian beliau r.a. menjerit dengan suara kuat : Alangkah baiknya sekiranya ibu 'Umar tidak melahirkan 'Umar! Alangkah baiknya sekiranya ibu 'Umar seorang perempuan yang mandul yang tidak merawat kandungannya!
Kemudian Uwais rah.a. berkata: Wahai Amirul Mu`miniin, mulailah tuan untuk bertindak sewajarnya di sini. Dan saya pun akan memulai bertindak sewajarnya di sini juga.
Maka (dengan haru dan lemas) 'Umar r.a. pun bergerak meninggalkan tempat itu menuju ke arah Makkah dan Uwais Al-Qorniy rah.a. pula terus menggiringkan untanya. Dan dengan tiba-tiba kaumnya ( kaum Uwais) telah datang dengan unta-unta mereka. Dan (dengan persetujuan bersama) akhirnya Uwais Al-Qorniy rah.a. berhenti kerja penggembalaan dan beliau rah.a. pun sepenuhnya beribadah sampai beliau rah.a. menemui Allah 'Azza wa Jalla.


Terjemahan Kitab Sifah As-Sofwah, susunan Al- Imam Al-'Aalim Jamaaluddiin Abil Faroj Ibnu Al-Jauziyy rah.a, jilid 3, halaman 45, 46, 47 dan 48. Daarul Ma'rifah, Beirut, Lebanon.


Sumber:
http://buntetpesantren.org/index.php?option=com_content&view=article&id=689:uwais-al-qorniy&catid=39:tasawuf&Itemid=80

Jumat, 04 Februari 2011

Mengenang Akhlak Nabi Muhammad SAW bag.1

Setelah Nabi wafat, seketika itu pula kota Madinah bising dengan tangisan ummat Islam; antara percaya - tidak percaya, Rasul Yang Mulia telah meninggalkan para sahabat. Beberapa waktu kemudian, seorang arab badui menemui Umar dan dia meminta, menceritakan padaku akhlak Muhammad. Umar menangis mendengar permintaan itu. Ia tak sanggup berkata apa-apa. Ia menyuruh Arab badui tersebut menemui Bilal. Setelah ditemui dan diajukan permintaan yg sama, Bilal pun menangis, ia tak sanggup menceritakan apapun. Bilal hanya dapat menyuruh orang tersebut menjumpai Ali bin Abi Thalib.
Orang Badui ini mulai heran. Bukankah Umar merupakan seorang sahabat senior Nabi, begitu pula Bilal, bukankah ia merupakan sahabat setia Nabi. Mengapa mereka tak sanggup menceritakan akhlak Muhammad. Dengan berharap-harap cemas, Badui ini menemui Ali. Ali dengan linangan air mata berkata, ceritakan padaku keindahan dunia ini!. Badui ini menjawab, bagaimana mungkin aku dapat menceritakan segala keindahan dunia ini... Ali menjawab, Òengkau tak sanggup menceritakan keindahan dunia padahal Allah telah berfirman bahwa sungguh dunia ini kecil dan hanyalah senda gurau belaka, lalu bagaimana aku dapat melukiskan akhlak Muhammad, sedangkan Allah telah berfirman bahwa sungguh Muhammad memiliki budi pekerti yang agung! (QS. Al-Qalam[68]: 4)
Badui ini lalu menemui Siti Aisyah r.a. Isteri Nabi yang sering disapa Khumairah oleh Nabi ini hanya menjawab, khuluquhu al-Qur ’an (Akhlaknya Muhammad itu Al-Qur ’an). Seakan-akan Aisyah ingin mengatakan bahwa Nabi itu bagaikan Al-QurÕan berjalan. Badui ini\tidak puas, bagaimana bisa ia segera menangkap akhlak Nabi kalau ia harus melihat ke seluruh kandungan QurÕan. Aisyah akhirnya
menyarankan Badui ini untuk membaca dan menyimak QS Al-Mu ’minun[23]: 1-11.

      Bagi para sahabat, masing-masing memiliki kesan tersendiri dari pergaulannya dengan Nabi. Kalau mereka diminta menjelaskan seluruh akhlak Nabi, linangan air mata-lah jawabannya, karena mereka terkenang akan junjungan mereka. Paling-paling mereka hanya mampu menceritakan satu fragmen yang paling indah dan berkesan dalam interaksi mereka dengan Nabi terakhir ini.
Mari kita kembali ke Aisyah. Ketika ditanya, bagaimana perilaku Nabi, Aisyah hanya menjawab, ah semua perilakunya indah. ketika didesak lagi, Aisyah baru bercerita saat terindah baginya, sebagai seorang isteri. Ketika aku sudah berada di tempat tidur dan kami sudah masuk dalam selimut, dan kulit kami sudah bersentuhan, suamiku berkata, Ya Aisyah, izinkan aku untuk menghadap
Tuhanku terlebih dahulu. Apalagi yang dapat lebih membahagiakan seorang isteri, karena dalam sejumput episode tersebut terkumpul kasih sayang, kebersamaan, perhatian dan rasa hormat dari seorang suami, yang juga seorang utusan Allah. Nabi Muhammad jugalah yang membikin khawatir hati
Aisyah ketika menjelang subuh Aisyah tidak mendapati suaminya disampingnya. Aisyah keluar membuka pintu rumah. terkejut ia bukan kepalang, melihat suaminya tidur di depan pintu. Aisyah berkata, mengapa engkau tidur di sini. Nabi Muhammmad menjawab, aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu. Mari berkaca di diri kita masing-masing. Bagaimana perilaku kita terhadap isteri kita? Nabi mengingatkan, berhati- hatilah kamu terhadapisterimu, karena sungguh kamu akan ditanya di hari akhir tentangnya. Para sahabat pada masa Nabi memperlakukan isteri mereka dengan hormat, mereka takut kalau wahyu turun dan mengecam mereka. Buat sahabat yang lain, fragmen yang paling indah ketika sahabat tersebut terlambat datang ke Majelis Nabi. Tempat sudah penuh sesak. Ia minta izin untuk mendapat tempat, namun sahabat yang lain tak ada yang mau memberinya tempat. 

       Di tengah kebingungannya, Rasul memanggilnya. Rasul memintanya duduk di dekatnya. Tidak cukup dengan itu, Rasul pun melipat sorbannya lalu diberikan pada sahabat tersebut untuk dijadikan alas tempat duduk. Sahabat tersebut dengan berlinangan air mata, menerima sorban tersebut namun tidak menjadikannya alas duduk akan tetapi mencium sorban Nabi. Senangkah kita kalau orang yang kita hormati, pemimpin yang kita junjung tiba-tiba melayani kita bahkan memberikan sorbannya untuk tempat alas duduk kita. Bukankah kalau mendapat kartu lebaran dari seorang pejabat saja kita sangat bersuka cita. Begitulah akhlak Nabi, sebagai pemimpin ia ingin menyenangkan dan melayani bawahannya. Dan tengoklah diri kita. Kita adalah pemimpin, bahkan untuk lingkup paling kecil sekalipun, sudahkah kita meniru akhlak Rasul Yang Mulia. Nabi Muhammad juga terkenal suka memuji sahabatnya. Kalau kita baca kitab-kitab hadis, kita akan kebingungan menentukan siapa sahabat yang paling utama. Terhadap Abu Bakar, Rasul selalu memujinya. Abu Bakar-lah yang menemani Rasul ketika hijrah. Abu Bakarlah yang diminta menjadi Imam ketika Rasul sakit. Tentang Umar, Rasul pernah berkata, syetan saja takut dengan Umar, bila Umar lewat jalan yang satu, maka Syetan lewat jalan yang lain. Dalam riwayat lain disebutkan, 
Nabi bermimpi meminum susu. Belum habis satu gelas, Nabi memberikannya pada Umar yang meminumnya sampai habis. Para sahabat bertanya, Ya Rasul apa maksud (ta ’wil) mimpimu itu?
Rasul menjawab ilmu pengetahuan. Tentang Utsman, Rasul sangat menghargai Ustman karena itu Utsman menikahi dua putri nabi, hingga Utsman dijuluki dzu an- Nurain (pemilik dua cahaya). Mengenai Ali, Rasul bukan saja menjadikannya ia menantu, tetapi banyak sekali riwayat yang menyebutkan keutamaan Ali.
Aku ini kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. Barang siapa membenci Ali, maka ia merupakan orang munafik. Lihatlah diri kita sekarang. Bukankah jika ada seorang mrekan yang punya sembilan kelebihan dan satu kekurangan, maka kita jauh lebih tertarik berjam-jam untuk membicarakan yang satu itu dan melupakan yang sembilan. Ah...ternyata kita belum suka memuji; kita masih suka mencela.
Ternyata kita belum mengikuti sunnah Nabi.